-siapa juga yang bisa menyangka…?

Jauh sebelum saat itu tak pernah terpikirkan olehku untuk bertemu dengannya. Sibukku hanya karena menjadi perantara siswa yang terlibat dalam tanggung jawab mengurus event dan ekskul di sekolah.

Kemudian aku tambah lagi sibukku di saat itu untuk mencoba menjadi pelajar sejati dengan mengikuti beberapa kompetisi, salah satunya adalah kompetisi menulis essai yang tak pernah terpikirkan untuk aku coba namun tema penulisan essai saat itu cukup menarik perhatianku, merayakan hari bumi.

Hari-hari dan waktu liburanku dihabiskan untuk berkenalan dengan bumi, untuk mencari sebanyak-banyaknya fakta yang bumi miliki, untuk memaksa otakku menyusun sebuah inovasi yang membawa kebermanfaatan untuk kelangsungan hidup bumi, sambil tak lupa bahwa aku juga disibukkan oleh event sekolah saat itu.

Sampai di tanggal 22 April yang diperingati sebagai “Hari Bumi” aku terus menyibukkan diri sambil menunggu pengumuman hasil kompetisi dengan menjalankan event yang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari itu. Hari itu aku banyak meminta untuk didatangkan banyak hal baik, kelancaran event tersebut dan keberhasilan essai-ku. Namun, manusia hanya bisa berusaha dan berharap, sedang Tuhan tahu mana yang baik dan yang dibutuhkan hamba-Nya. Eventnya berjalan dengan lancar, sukses. Namun aku belum beruntung untuk menjadikan inovasi-ku adalah yang terbaik untuk kelangsungan hidup bumi.

Itu percobaan pertamaku jadi aku tidak merasa kecewa, justru aku bangga sekali dalam percobaan pertama itu aku sudah bisa melakukan yang terbaik. Teman-teman ku tahu bagaimana usahaku dalam menyusun essai itu sambil mempersiapkan event yang jadi seringkali mengambil jam tidurku, mereka adalah sebaik-baiknya teman maka kami berusaha tetap menjadikan hari itu adalah hari yang baik dengan berkumpul sepulang sekolah untuk sekadar bercanda, bercerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi makanan dari satu temenku yang datang belakangan membawa nasi kotak dari suatu acara, dia baru pulang dari O2SN.

Kami menetap di rumah salah satu temanku hingga malam hari, lalu kami kembali ke rumah masing-masing. Aku dan satu temanku -yang tadi baru pulang dari O2SN- menjadi 2 orang terakhir yang dijemput, jadi aku sempat banyak ngobrol dulu sama dia. Dia bilang besok dia dispen lagi untuk O2SN. Aku menanggapi nya dengan pertanyaan “Kita bisa nonton kamu tanding gak? “ dan ternyata karena tempat lomba dia di luar sekolah jadi aku dan teman-teman tidak bisa menontonnya, namun dia bilang “Sekolah kita juga dipakai untuk tempat lomba, cabang olahraga karate dan silat, kalo mau kalian nonton itu aja”, aku hanya diam sambil mengangguk untuk menanggapinya, karena aku tidak berencana untuk menonton pertandingan itu, lagian kan tujuan aku untuk menyaksikan temanku bertanding bukan untuk menyaksikan O2SN-nya, aku tidak tertarik, sampai saat itu.

Selasa, 23 April 2024. Jadwal kelasku di bengkel karena hari itu adalah jam pelajaran jurusan. Salah satu hal yang aku tak tahu disebut baik atau buruk dari guru jurusanku adalah jarang sekali masuk ke kelas, jadi kami mendapatkan jam kosong yang diisi oleh lebih dari sebagian anak kelas untuk tidur dan bermain game.

Aku dan teman-teman ku memilih untuk makan bersama di luar kelas -karena tidak boleh makan di dalam bengkel- sambil bercerita-cerita. Kemudian satu temanku bilang bahwa teman SMP-nya ada yang mengikuti O2SN juga, cabang olahraga silat yang kebetulan dilaksanakan di aula sekolah kami. Akhirnya dia pergi dengan satu temanku yang lainnya untuk menonton pertandingan silat itu. Sisa kami ber-4 yang masih melanjutkan kegiatan makan bersama itu sambil terus bercerita hingga bel istirahat berbunyi, bertepatan dengan makan kami yang sudah habis. Selesai makan, teman-teman kembali masuk ke kelas untuk melakukan kegiatan lain -bermain handphone dan tidur- namun aku tidak ada keinginan untuk tidur karena menurutku masih pagi untuk tidur dan aku juga tidak tertarik untuk bermain handphone ku, sudah bosan scroll semua sosial media. Akhirnya aku pergi keluar kelas berniat menyusul temanku, ke aula, menonton pertandingan silat.

Aku cukup terkesima di awal waktu aku menyaksikan beberapa pesertanya, keren. Ini pertama kalinya aku menyaksikan pertandingan silat, oh yang ini lebih tepatnya seni. Dari yang awalnya aku hanya berniat menyaksikannya sebentar, tanpa sadar aku malah mengajak temanku untuk mencari posisi yang nyaman untuk menyaksikan pertandingan lebih dekat sambil duduk. Banyak aku menyaksikan penampilan seni silat dari siswa/i murid sekolah lain, sampai tak lama akan jadi gilirannya perwakilan dari sekolahku yang tampil. Aku tidak kenal dengannya, tapi aku cukup familiar dengan wajahnya entah karena faktor sering berpapasan tanpa sengaja atau karena seingatku aku pernah bertemu orang lain yang juga mirip dengannya (?) entahlah aku tak yakin. Sampai kurang lebih 2 peserta lagi sebelum perwakilan dari sekolahku, teman di kelasku memberi kabar bahwa guru jurusanku sudah masuk ke kelas, jadi kami segera beranjak dari aula tanpa sempat menyaksikan penampilan dari perwakilan sekolahku.

Kami kembali ke kelas dan mengikuti pembelajaran seperti biasa, dengan serius dan fokus. Guruku memiliki cara yang unik untuk mengabsen siswanya, entah dengan menyebutkan nama gunung di Indonesia, gunung di dunia, nama sungai, nama hewan, nama tumbuhan, nama kota, atau apapun yang dia inginkan. Namun saat itu aku pikir dia tidak meminta untuk menyebutkan nama apapun, guruku memanggil namaku hingga 2 kali yang membuat aku bingung sendiri karena dia minta disebutkan nama rumah adat di Indonesia, untung temanku membantu. Aku jadi gagal fokus. Entah kenapa jiwaku rasanya masih tertinggal di aula sekolah untuk terus menyaksikan pertandingan silat itu. Akhirnya aku coba mengirim pesan kepada temanku dari kelas lain yang tadi juga menyaksikan pertandingan silat di aula, siapa tahu dia masih di sana. Aku mengirimkan pesan padanya untuk mengabari apabila perwakilan silat dari sekolahku itu sudah bertanding, siapa tahu lagi guruku tiba-tiba ada keperluan mendadak dan aku bisa kembali ke aula untuk menyaksikannya. Tapi sayangnya, guruku terus menetap di dalam kelas, dan siswa yang menjadi perwakilan sekolahku itu sudah tampil. Namun, luar biasanya temanku adalah memiliki inisiatif yang tinggi, dia mengirimkan foto dan vidio penampilannya kepadaku, sambil memberi kabar bahwa siswa itu masuk final. Aku menontonnya melalui vidio singkat dari temanku, dia keren, sangat.

Tak lama setelah itu waktu guruku habis, bertepatan juga dengan waktu istirahat kedua dan sholat zuhur. Aku berpikiran untuk kembali menonton pertandingan silat ke aula, kata temanku finalnya sedang berlangsung. Awalnya aku bimbang untuk kembali menonton atau tidak, karena bisa saja siswa yang menjadi perwakilan sekolahku sudah tampil, terus untuk apa aku kesana?. Tapi temanku bersikeras dan tetap mengajakku untuk ke aula, “Lihat aja sebentar, kalau dia memang sudah tampil ya kita tinggal balik lagi“ begitu katanya. Baiklah aku mengikutinya. Dan siapa sangka, ternyata finalnya justru baru akan dimulai, dan dia ada di nomor urut 2 (?) -aku lupa-.

Segeralah aku dan temanku mencari posisi yang nyaman untuk bisa menyaksikannya dari dekat. Hanya satu peserta dari sekolah lain sebelum gilirannya. Aku terus menunggu, menunggu finalnya dimulai, menunggu para juri memasuki tempatnya, menunggu nama-nama urutan finalis yang akan bertanding, hingga tiba gilirannya.

Aku memperhatikannya dengan sangat baik dari mulai dirinya memasuki stage, berjalan, meletakkan tongkat dan senjatanya, serta melakukan serangkaian hal lainnya yang tidak begitu aku mengerti. Hingga perhatianku teralihkan oleh display yang menampilkan namanya, sambil dirinya berada dalam posisi siap, menunggu gong dibunyikan. Semuanya dimulai. Dia yang mulai menunjukkan kemampuan terbaiknya, dan aku yang mulai menyadari bahaya di depanku.

Dia, yang mendapat banyak dukungan dan sorakan semangat dari temannya yang terus menyebutkan namanya. Namanya, yang sejenak mengambil seluruh atensiku dari ruangan itu.

Dia, Bumi.